Tugas bahasa Indonesia Cerpen
Pengalaman satu semester kuliah
Pada hari pertama masuk perkuliahan, aku mengikuti berbagai macam kegiatan orientasi. Kegiatan ini sangat seru; aku bahkan berhasil meraih juara satu dalam membuat video, aku sangat senang sekali. Kegiatan itu mengundang banyak sekali bintang tamu yang sangat menarik. Pada hari pertama masa orientasi, aku menyaksikan berbagai bintang tamu yang menarik dan sangat mengasyikkan.
Pada hari kedua, aku dikenalkan dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sangat beragam, seperti UKM olahraga, Sun Cinema, Taekwondo, dan masih banyak lainnya. Sayangnya, tidak ada UKM untuk e-sport. Pada hari itu juga banyak sekali stan-stan yang bagus; aku berhasil mengumpulkan sampel cap dari setiap stan yang ada.
Pada hari ketiga masa orientasi, aku kembali mendengarkan materi dan dikenalkan dengan ketua dan anggota dari setiap program studi di Fakultas Pertanian dan Perikanan. Karena program studiku adalah Agroteknologi, pada hari keempat masa orientasi, aku dikenalkan dengan lahan-lahan dan laboratorium yang akan digunakan selama studi. Ada banyak sekali fasilitas menarik, seperti kebun, greenhouse, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Akuakultur, Laboratorium Agroteknologi, Laboratorium Komputer Agribisnis, dan banyak lainnya.
Di Laboratorium Terapan ini juga terdapat aula yang luas, dan di dalamnya sangat sejuk. Aula ini biasanya digunakan untuk perkuliahan tertentu yang membutuhkan ruangan yang lebih luas daripada kelas pada umumnya.
Selesai mengamati Laboratorium Terapan, aku kembali ke Gedung J, tempat perkuliahan biasanya dilaksanakan. Ada enam lantai di Gedung J. Lantai 1 atau basement digunakan untuk tempat istirahat, ruangan HMPS dan BEM, serta Perpustakaan LPPI. Lantai 2 digunakan untuk keperluan LPPI. Lantai 3 dan 4 digunakan untuk Fakultas Psikologi serta Akuakultur. Lantai 5 digunakan untuk Program Studi Agribisnis, dan yang terakhir, Lantai 6 digunakan untuk Program Studi Agroteknologi.
Setiap hari aku berjalan kaki menuju kampus dan jarang menggunakan kendaraan pribadi karena jarak kos yang sangat dekat dengan kampusku. Saat ada jadwal mata kuliah pada pagi hari, lift yang digunakan pasti sangat padat, sehingga aku harus menggunakan tangga. Hal ini sangat melelahkan, tetapi tidak mengapa. Perkuliahan sangat menyenangkan, ada banyak sekali ilmu yang didapat setiap harinya.
Perkuliahan memang padat dari Senin hingga Jumat, tetapi ada satu rutinitas yang selalu kunanti: pulang ke rumah. Setiap hari Sabtu pagi, segera setelah menyelesaikan satu atau dua tugas yang tersisa, aku akan bergegas membereskan tas dan menuju terminal. Aku selalu pulang ke Wonosobo setiap akhir pekan. Jarak yang ditempuh memang cukup jauh dan memakan waktu, tetapi suasana rumah dan udara dingin Wonosobo adalah pelabuhan terbaik untuk mengisi ulang energi. Momen perjalanan naik bus itu adalah waktu refleksi pribadiku, memproses semua materi dan tekanan yang kualami di kampus selama lima hari penuh, sebelum aku kembali pada hari Minggu sore dengan semangat yang baru untuk menghadapi Gedung J dan segala isinya.
Namun, di tengah rutinitas akademik dan pulang kampung yang tenang itu, sempat terselip kejadian yang cukup mengejutkan dan membuatku khawatir. Tepat pada hari Kamis kemarin, aku menerima kabar buruk. Salah seorang temanku, Wisnu, mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu persis detailnya, hanya tahu dari pesan berantai di grup bahwa ia terjatuh dari motor. Jantungku mencelos saat mendengar kabar itu. Pikiran tentang hal terburuk langsung memenuhi kepalaku. Syukurlah, setelah beberapa jam menunggu kabar, ada konfirmasi yang melegakan: Wisnu tidak apa-apa. Ia hanya mengalami luka ringan dan mungkin sedikit shock. Kejadian itu sungguh membuatku tersadar betapa rapuhnya kami, para mahasiswa perantau yang berjuang sendirian di kota ini, dan betapa pentingnya menjaga diri di tengah hiruk pikuk kesibukan kuliah. Kecelakaan Wisnu menjadi pengingat pahit bahwa di balik tugas dan UTS, keselamatan adalah prioritas utama.
Masa Ujian Tengah Semester (UTS) akhirnya tiba, membawa serta gelombang kecemasan yang perlahan membanjungi seluruh penghuni Gedung J. Demi menghadapi tantangan akademik ini, aku telah mengatur jadwal belajar dan berusaha keras untuk menguasai setiap materi yang diberikan. Namun, layaknya dinding tebal yang menghalangi, ada beberapa mata kuliah yang terasa sangat susah untuk dipahami dan ditembus, salah satunya adalah Botani.
Mata kuliah ini menjelma menjadi momok yang menakutkan, bukan hanya karena kedalaman materinya, tetapi juga karena pendekatan pengajaran dosen yang terasa sangat menuntut. Dosen Botani kami, dengan ketegasannya yang legendaris, secara eksplisit memaksa kami untuk tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga memahami seluk-beluk seluruh struktur tumbuhan—sebuah tugas yang terasa monumental. Tantangan ini menjadi sangat sulit. Setiap konsep seolah memiliki rantai nama latin yang rumit dan klasifikasi yang tidak berujung. Memoriku terasa seperti spons yang dipaksa menyerap air yang terlalu banyak, hingga ia hampir meledak karena tekanan.
Bagian praktikum Botani menambah beban kesulitan itu berkali lipat. Kami diharuskan hafal di luar kepala dengan nama-nama latin tanaman, mulai dari suku hingga spesiesnya, dan lebih parahnya, harus memahami secara mendalam anatomi tanaman yang begitu detail, dari struktur akar, batang, hingga daun di bawah mikroskop. Saat berada di laboratorium, di bawah sorotan lampu yang redup, sel-sel parenkim dan xilem serta floem yang tampak identik seolah menari-nari mengejek di lensa mikroskop, menolak untuk dikenali dan dibedakan. Rasanya, setiap hari adalah sesi kuis mendadak tentang nama latin Oryza sativa atau Zea mays beserta seluruh bagian tubuhnya.
Aku dan teman-temanku, yang biasanya solid dan cepat tanggap dalam tugas kelompok, kini sama-sama mengakui kesulitan yang mendalam ini. Kami sering berkumpul hingga larut malam di lantai basement Gedung J, mencoba memecahkan misteri fotosintesis dan morfologi, tetapi yang kami temukan hanyalah kebingungan yang semakin pekat.
Kesulitan ini terasa kontras dengan pengalaman kami di mata kuliah lain, misalnya Ilmu Tanah. Mata kuliah Ilmu Tanah juga menuntut tingkat hafalan dan pemahaman yang tinggi. Kami harus menghafal klasifikasi ordo-ordo tanah, tekstur, dan sifat-sifat kimiawinya. Namun, entah mengapa, materi Ilmu Tanah dapat dipahami dengan jauh lebih jelas. Strukturnya logis dan alurnya tidak terasa terlalu bertele-tele. Setiap konsep memiliki hubungan sebab-akibat yang nyata, yang memudahkan otak kami untuk menyusunnya menjadi sebuah kerangka pemahaman yang kokoh. Jika Botani terasa seperti labirin tanpa peta dengan ribuan pintu yang mirip, maka Ilmu Tanah terasa seperti jalan tol yang meskipun panjang, tetapi memiliki rambu-rambu yang jelas.
Perbedaan pendekatan ini sangat memengaruhi mental. Di Ilmu Tanah, kami merasa seperti peneliti yang sedang mengungkap rahasia bumi; di Botani, kami merasa seperti robot penghafal yang diprogram untuk mengingat ribuan kata latin yang asing dan terasa tidak terhubung dengan realitas. Tekanan dari UTS Botani membuat kami meragukan kemampuan diri sendiri. Setiap halaman buku Botani yang kami buka, setiap diagram struktur yang kami amati, selalu disertai dengan desahan napas lelah dan perasaan ingin menyerah. Namun, dengan sisa-sisa semangat dan dukungan dari teman-teman yang senasib, kami terus mencoba menaklukkan tembok tinggi bernama Botani itu, berharap hasil di akhir semester akan sepadan dengan segala perjuangan dan jam tidur yang telah kami korbankan. Kami tahu, lolos dari mata kuliah ini adalah tanda keberhasilan sejati di semester pertama.
Bunyi adzan Subuh telah lama usai, digantikan oleh suara rintik embun yang jatuh dari dedaunan mangga di halaman rumah. Pukul 05.45. Langit masih abu-abu kebiruan, seolah ragu untuk menyambut terbitnya matahari. Dengan penuh semangat, aku
Aku berangkat ke kampus untuk berkumpul bersama teman-teman yang akan mengikuti kegiatan Tumbuh Berkembang Bersama Petani (TB2P). Kegiatan ini sedang diselenggarakan, dan kami berkumpul di lapangan voli, tepat di depan Gedung J, menunggu arahan dari panitia.
Setelah mendapatkan arahan, aku dan dua temanku segera memasuki Bus 1. Kami memulai perjalanan dari kampus menuju Desa Batumirah di daerah Tegal. Perjalanan terasa sangat melelahkan, sehingga aku dan teman-temanku memilih berbincang-bincang dan menghabiskan bekal makanan ringan yang kami bawa di dalam bus.
Di tengah perjalanan, salah satu kendaraan yang digunakan rombongan kami ternyata mengalami masalah. Mesinnya mengalami panas berlebih (overheat), menyerupai hawa yang terik di Purwokerto. Kami semua harus menunggu hingga suhu mesin kembali normal. Setelah beberapa saat, perjalanan dapat dilanjutkan. Aku dan temanku kembali menikmati makanan ringan sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Sayangnya, sekitar satu jam kemudian, kendaraan tersebut kembali bermasalah. Setelah diperiksa, kami baru mengetahui bahwa radiatornya bocor. Keadaan menjadi sedikit kacau. Teman-teman yang sebelumnya menaiki kendaraan itu harus berpindah ke bus lain atau kendaraan panitia yang tersisa untuk melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, rombongan kembali bergerak. Perjalanan yang panjang ini akhirnya berakhir. Kami tiba di Desa Batumirah. Di sana, kami berkesempatan belajar banyak hal tentang pertanian bersama kelompok petani Gemah Ripah. Ketika azan Asar berkumandang, kami berkumpul kembali untuk menunaikan ibadah salat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju objek wisata Guci.
Setibanya di Guci, kami menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan merilekskan pikiran. Pada malam yang sunyi di bawah taburan bintang, kami memulai perjalanan pulang kembali ke kampus.
Namun, di tengah perjalanan, salah satu teman kami tiba-tiba mengalami serangan asma. Kami harus menghentikan perjalanan dan menunggu bantuan medis. Tak berapa lama, pertolongan tiba, dan teman kami segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan. Sementara itu, aku dan rombongan lainnya melanjutkan perjalanan.
Di bawah gemerlap lampu jalan, perjalanan panjang kami berakhir. Aku dan teman-temanku tiba kembali di kampus dengan selamat, lalu pulang ke rumah masing-masing dengan membawa pengalaman dan semangat baru.
Pada hari Minggu, 28 aku mengikuti kegiatan keakraban (MAKRAB). Awalnya, aku sangat senang dan bahagia mengikuti kegiatan ini. Kami berkumpul di sebuah gedung pada pukul 14.00 pada hari Jumat, menunggu mobil yang akan mengantarkan kami ke Bumi Perkemahan Munjuluhur.
Sesampainya di sana, aku melakukan kegiatan bersama-sama dengan teman-temanku. Awalnya, acara sangat menyenangkan, tetapi itu semua berubah saat jam menunjukkan pukul 02.00 (atau pukul 2 dini hari). Aku tidak, tetapi semua orang yang mengikuti dipaksa bangun untuk mengikuti kegiatan dengan berjalan mengikuti jalan yang ditentukan. Dengan nada yang tidak menyenangkan, para panitia memarahi dan mengolok-olok dengan alasan yang tidak jelas. Namun, semua itu berhasil dilalui dengan selamat.
Pada hari kedua, aku melakukan kegiatan demonstrasi (Demo) yang berjalan baik. Sorenya, kegiatan yang diselenggarakan adalah berbagai lomba, seperti estafet air dan sebagainya. Pada malam hari, kegiatan yang dilakukan yaitu pentas seni. Setiap kelompok mementaskan satu tema yang telah ditentukan. Kelompokku mendapatkan tema Perkusi Kreatif. Kegiatan malam itu sangat menyenangkan.
Pentas seni telah usai, selanjutnya adalah api unggun. Pada saat kegiatan api unggun, aku bertukar hadiah dengan teman-temanku. "Wow!" hadiah yang aku terima berupa sabun mandi.
Hari selanjutnya atau pada hari terakhir, aku melakukan senam bersama-sama lalu pulang ke rumah masing-masing. Kegiatan keakraban (MAKRAB) ini sangat melelahkan, tetapi sedikit menyenangkan.
Selain semua itu aku juga memiliki kelas inggris tersendiri, kelas ini diselenggarakan oleh Language Development Center Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Awal masuk kelas semua orang dipersilahkan untuk mengisi placement test terlebih dahulu. Placement test terasa sangat tegang, test ini diselenggarakan online dengan zoom sebagai alat pembantu agar tidak ada yang bisa melakukan kecurangan. Aku tidak mempunyai laptop selama satu semester ini, padahal test ini hanya bisa diakses dengan laptop karena memerlukan aplikasi tertentu. Untung teman-temanku siap meminjamkan laptopnya. Ternyata, teman tidak hanya penting, mereka adalah jangkar di tengah badai akademik. Inilah potret satu semester penuh sebuah perjuangan yang melelahkan, tetapi sungguh berharga. Inilah potret satu semester penuh yang kulewati. Satu semester yang mengajarkanku bahwa kampus bukan hanya tentang nilai A atau hafalan Latin Botani, tetapi tentang ketahanan dan menemukan jaringan yang akan mendukungku berdiri tegak di lantai 6 Gedung J, hari demi hari.
Komentar
Posting Komentar